Jejak Setapak


Setapak jalan terus ku lalui, meski keraguan sering menghadang membentang. Peluh pun bagai dzikir yang mengalir deras membersamai
asa. Asa yang tak bermuara pada satu harapan saja. Ia selalu tumbuh melanglang mengarahkan hidup pada tujuan.
Biarpun tingginya asa seringkali menghadirkan senyum asimetris, biarkan sayapnya menghempas bayangan hitam hingga secercah cahaya
mampu kau lihat. Kini saatnya untuk menggenggamnya. Melihat sosok nyatanya yang mampu di rengkuh dengan kebijakan sikap.
Tiada alasan bagi tangan ini untuk bergetar menyambut sejuknya
kemenangan. Namun biarkan hati tetap bergetar, karena itulah
yang selalu menghadirkan cinta yang tiada terbesit keangkuhan.

Diberdayakan oleh Blogger.